Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Maret 2013

Manusia Setengah Salmon


Setiap orang akan mengalami yang namanya perpindahan dalam hidupnya. Baik disadari atau pun tidak, setiap orang akan mengalami sebuah proses yang namanya ‘pindah’ dalam perjalanan hidupnya.

Manusia Setengah Salmon adalah buku ke enam dari penulis novel komedi nomor satu di negeri ini, yaitu Raditya Dika. Di dalam buku terbarunya ini Raditya Dika menyuguhkan 18 bab yang menceritakan makna sebuah kata ‘pindah’. Pindah rumah, pindah pekerjaan, pindah status dan bahkan pindah hati.

Dengan gaya bahasa yang kocak,Raditya Dika mengajak para pembaca untuk mengintip berbagai macam perpindahan dalam hidup ini yang mampu membuat pembaca tertawa sekaligus merenungi perpindahan yang telah terjadi tanpa disadari.

“Hidup sesungguhnya adalah potongan-potongan antara perpindahan satu dengan lainnya. kita hidup di antaranya.” (hal. 254)

Selain bercerita tentang esensi kata ‘pindah’ di kehidupan yang dijalani, di dalam Manusia Setengah Salmon, Raditya Dika juga menyelipkan pesan tentang kasih sayang ibu yang tidak pernah luntur di dalam bab Kasih Ibu Sepanjang Belanda. Di dalam bab ini, Raditya Dika baru menyadari perhatian dan cinta yang diberikan oleh ibunya (yang menurut Raditya Dika cukup mengganggu dan over protective).

Namun walau begitu Raditya Dika tetap menyelipkan humor dalam buku ini,seperti contoh dalam bab Pesan Moral Dari Sepiring Makanan, Bakar Saja Keteknya dan Jomblonology akan benar-benar mengocok perut para pembaca. Selain tulisannya yang “berbau” bijak dan humor,Raditya Dika juga menyuguhkan tulisan beraliran galau. Seperti contoh dalam tulisannya Sepotong Hati di Dalam Kardus Coklat, Penggalauan, Mencari Rumah Sempurna, Manusia Setengah Salmon benar-benar membuat para pembaca tenggelam dalam kegalauan hati yang sempurna.

Kelebihan dari novel ini adalah gaya bahasa yang mudah dimengerti dan kata-katanya yang tidak ambigu sehingga memudahkan para pembaca dalam memahami maksud dari novel tersebut. Novel Manusia Setengah Salmon juga mampu mengocok perut pembaca dengan gaya komedi khas Raditya Dika, namun juga mampu menimbulkan efek galau saat membaca.

Marmut Merah Jambu

Marmut Merah Jambu adalah buku Raditya Dika yang ke lima, setelah Kambing Jantan, Cinta Brontosaurus, Babi Ngesot, dan Radikus Makankakus. Berbeda dengan buku-buku Raditya Dika yang lain, Di Marmut Merah Jambu ini, tidak banyak hal yang membuat kita tertawa. Rata-rata isinya tentang cinta. Lagi-lagi kak Radit berhasil memberi banyak inspirasi kepada pembacanya. Di semua bukunya, dia berhasil membuat para pembaca tersihir untuk masuk kedalam cerita nya.

Banyak pesan moral yang terkandung dalam buku Marmut Merah Jambu. Kita harus membiasakan untuk mensyukuri nikmatnya hidup, apa yang telah diberikan oleh Tuhan. Marmut Merah Jambu terasa begitu realistis bagi pembacanya, karena ditulis berdasarkan pengalaman kak Radit sendiri.

Di awal bab buku ini, Kak Raditya menulis tentang 'Orang yang Jatuh Cinta Diam-diam'. Pengalaman teman SMA nya yang bernama Aldi yang jatuh cinta kepada cewek kelas sebelah yang bernama Widya. Aldi sangat hapal gerak-gerik Widya, hal-hal yang disukai Widya, tapi Aldi sadar, dia gak mungkin bisa jadiin Widya sebagai pacarnya. Begitulah orang yang jatuh cinta secara diam-diam, selalu mengagumi diam-diam, mencintai diam-diam, dan tersakiti secara diam-diam juga.

Bab yang menarik lainnya adalah pertemuan kak Raditya Dika dengan Ina Mangunkusumo. Kak Radit menceritakan dirinya sebagai murid biasa di sekolahnya jatuh cinta kepada cewek terpopuler disekolahnya. Mulai dari ngajak Ina nonton bareng, konyolnya Radit salah pake parfum, dia pake parfum ibunya yang baunya nyengat banget. Sampai akhirnya, cintanya pupus karena Ina balikan sama mantannya Anto.

Jangan menganggap dirimu tidak berharga, atau bahkan sampah. Karena, diluar sana ada orang yang menanti-nantikan bisa bertemu denganmu dan melihat senyumanmu. Itulah moral yang terkandung dalam bab Dabel Trabel di buku Marmut Merah Jambu, yang menceritakan kak Radit sendiri yang diteror orang gak jelas berhari-hari. Ternyata orang itu cinta mati sama kak Radit, sampai-sampai rela melakukan apa saja buat kak Radit. Setiap pagi, kak Radit ditelpon sama orang yang ngaku-ngaku bernama Nina, terus gak lama kemudian muncul suara yang ngaku-ngaku bernama Nini. Beberapa hari kemudian, kak Radit kedatangan tamu di teras rumahnya, ternyata mereka kembar. Gak lama setelah itu, dua orang itu gak lagi nelpon-nelpon kak Radit, dan ada kabar, ternyata Nini dihamili oleh supir angkot karena supir tersebut mirip sama muka kak Radit.
Selain bab-bab diatas, masih banyak banget bab yang gak kalah menarik. Seperti, bab cinta di atas sepotong chatting yang menceritakan bagaimana gagalnya seorang Raditya Dika dalam hal cinta.



Senin, 11 Februari 2013

Antara Teh, Kopi dan Susu

Ini adalah Fiksi pertama yang akan gue tulis. Belum terbayang sama sekali cerita apa yang bakal gue tulis dalam fiksi ini. Tapi walaupun judul yang gue ambil adalah nama minuman, fiksi ini sama sekali nggak akan membahas tentang minuman itu. Masih butuh inspirasi #bersambung

Minggu, 10 Februari 2013

Nemo will be born

Suatu hari nanti akan lahir seorang anak laki-laki dengan nama Nemo Atmodjo.
Ini bukan sekedar angan-angan, tapi ini adalah sebuah do'a dan harapan tentang masa depan.
Kata Nemo berasal dari bahasa Yunani yang artinya "lembah kecil". Atmodjo adalah nama warisan dari kakek dan bokap gue, yang artinya "buah hati".
Sebenarnya nama Nemo bukan terinspirasi dari film Finding Nemo yang ceritanya tentang anak ikan yang hilang, tapi nama Nemo disini terinspirasi dari sebuah film yang berjudul Mr.Nobody. #bersambung